Sholawat

Bacaan Sholawat Asyghil Lengkap Arab Latin dan Artinya, Doa Perlindungan dari Kezaliman

Bacaan Sholawat Asyghil Lengkap Arab Latin dan Artinya, Doa Perlindungan dari Kezaliman
Bacaan Sholawat Asyghil Lengkap Arab Latin dan Artinya, Doa Perlindungan dari Kezaliman

JAKARTA - Di tengah dinamika kehidupan umat Islam, sholawat menjadi salah satu amalan yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.

Di antara berbagai bacaan sholawat yang populer di Indonesia, Sholawat Asyghil memiliki tempat tersendiri, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama, pesantren, dan majelis istighasah. Sholawat ini tidak hanya dibaca sebagai bentuk cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai doa perlindungan dari kezaliman.

Keunikan Sholawat Asyghil terletak pada redaksinya yang memadukan pujian kepada Rasulullah SAW dengan permohonan keselamatan dari gangguan orang-orang zalim. Karena itulah, sholawat ini kerap dilantunkan dalam berbagai acara keagamaan dan menjadi bagian dari tradisi ibadah masyarakat Muslim Nusantara.

Sejarah dan Latar Belakang Sholawat Asyghil

Merujuk pada studi berjudul “From Ritual to Resistance: Salawat Asghil in the Environmental Struggle of The Wadas Community” karya Sakehu dkk, Sholawat Asyghil pertama kali dicetuskan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq (w. 138 H). Beliau adalah ulama besar sekaligus cucu Rasulullah SAW yang hidup pada masa akhir Dinasti Umayyah dan awal pemerintahan Abbasiyah.

Pada masa itu, kondisi politik dan sosial mengalami gejolak hebat. Imam Ja’far ash-Shadiq rutin membaca sholawat ini dalam doa qunut Subuh bersama jamaahnya sebagai bentuk permohonan perlindungan dari tekanan politik dan kezaliman penguasa. Praktik ini kemudian diwariskan dan terus diamalkan hingga kini.

Sholawat Asyghil juga diabadikan dalam kitab Al-Kawakib Al-Mudhi’ah fi Dzikr Al-Shalah ‘ala Khair Al-Bariyyah karya Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan Ba’alawy (w. 1122 H), sehingga sholawat ini dikenal pula dengan nama Sholawat Habib Ahmad Al-Hinduan.

Bacaan Sholawat Asyghil Arab, Latin, dan Artinya

Berikut bacaan Sholawat Asyghil lengkap dengan teks Arab, Latin, dan artinya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Latin: Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad
Artinya: Ya Allah, berikanlah sholawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad.

وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ
Latin: Wa asyghilizh zholimin bidz zholimin
Artinya: Dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya.

وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ
Latin: Wa akhrijna min bainihim salimin
Artinya: Dan keluarkanlah kami dari tengah-tengah mereka dalam keadaan selamat.

وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Latin: Wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in
Artinya: Dan limpahkanlah sholawat kepada keluarga dan para sahabat beliau.

Makna Mendalam Sholawat Asyghil

Setiap frasa dalam Sholawat Asyghil mengandung makna teologis yang kuat. Kalimat “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad” menegaskan kecintaan dan pengakuan umat Islam terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam menegakkan kebenaran.

Frasa “Wa asyghilizh zholimin bidz zholimin” menjadi inti doa ini. Kata asyghil berasal dari akar kata shaghala yang berarti menyibukkan. Doa ini memohon agar Allah menyibukkan para pelaku kezaliman dengan urusan mereka sendiri, sehingga tidak sempat menindas orang-orang lemah.

Selanjutnya, “Wa akhrijna min bainihim salimin” merupakan permohonan keselamatan agar umat Islam dijauhkan dari dampak buruk kezaliman, baik secara fisik maupun iman. Penutup sholawat dengan doa bagi keluarga dan sahabat Nabi mencerminkan penghormatan kepada mereka yang berjuang bersama Rasulullah SAW.

Sanad Keilmuan dan Penyebaran di Nusantara

Sholawat Asyghil memiliki sanad keilmuan yang kuat. Imam Ja’far ash-Shadiq dikenal sebagai induk sanad bagi Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas. Sanad Imam Syafi’i pun bersambung melalui Imam Malik, sehingga posisi keilmuan Imam Ja’far sangat diakui dalam Islam.

Di Nusantara, sholawat ini mulai dikenal luas setelah diijazahkan oleh para ulama pesantren. Kalangan pesantren meriwayatkan bahwa KH M. Anwar Mansur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, memperoleh ijazah Sholawat Asyghil dari KH Abdul Abbas Buntet Cirebon. Hal ini menegaskan bahwa sholawat ini memiliki transmisi keilmuan yang jelas.

Para ulama menegaskan bahwa meskipun Sholawat Asyghil termasuk sholawat ghayr ma’tsurah, kandungannya sejalan dengan Al-Qur’an dan hadis, sehingga pengamalannya tetap sah dan dianjurkan.

Sholawat Asyghil sebagai Doa Perlindungan Spiritual

Dalam berbagai literatur, Sholawat Asyghil dipahami sebagai benteng spiritual saat umat Islam berada dalam kondisi genting. Sejarah mencatat bahwa sholawat ini pernah diamalkan oleh para ulama sufi ketika umat Islam menghadapi ancaman besar, seperti saat kehancuran Baghdad oleh pasukan Mongol.

Karena itu, Sholawat Asyghil tidak hanya dipandang sebagai pujian kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai doa perlindungan dan senjata spiritual dalam menghadapi ketidakadilan. Hingga kini, sholawat ini terus hidup sebagai bagian dari tradisi ibadah dan kekuatan batin umat Islam.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index