JAKARTA - Memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, komitmen pemerintah dalam menjaga asupan nutrisi masyarakat tidak surut. Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, telah menyusun strategi khusus untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menjangkau penerima manfaat tanpa mengganggu ibadah puasa. Langkah ini merupakan bentuk kepatuhan terhadap regulasi BGN pusat agar intervensi gizi tetap konsisten dilakukan sepanjang tahun, termasuk pada momen-momen keagamaan.
Kepastian ini membawa angin segar bagi ratusan ribu siswa dan kelompok rentan di Lebak yang menggantungkan kebutuhan nutrisi tambahannya pada program ini. Pemerintah daerah menegaskan bahwa operasional tetap berjalan dengan penyesuaian teknis pada jenis konsumsi yang diserahkan kepada masyarakat.
Adaptasi Menu Kering Demi Menjaga Kualitas Gizi
Ketua Koordinator BGN Kabupaten Lebak, Asep Royani, memberikan penjelasan mendalam mengenai perubahan pola distribusi yang akan diterapkan. Dalam keterangannya di Lebak, Selasa, ia menjelaskan bahwa pembagian menu MBG selama Ramadhan berbeda dibandingkan dengan hari biasa. Penyesuaian ini dilakukan untuk memastikan makanan tetap dalam kondisi layak konsumsi saat waktu berbuka tiba.
Selama Ramadhan, menu MBG berupa makanan kering yang bertahan hingga saat buka puasa, seperti roti, abon, kacang-kacangan, dan buah-buahan. Pemilihan jenis makanan ini telah melalui pertimbangan keamanan pangan yang ketat. "Kita selama Ramadhan membagikan makanan kering dan tidak seperti hari normal dengan menu makanan basah yang siap dikonsumsi," katanya. Hal ini bertujuan untuk menghindari risiko makanan basi jika tetap menggunakan menu makanan basah yang biasanya didistribusikan pada siang hari.
Jadwal Distribusi dan Target Penerima Manfaat
Pemerintah telah menetapkan kalender pelaksanaan agar tidak terjadi kekosongan layanan. Ia mengatakan pembagian MBG dimulai 23 Februari 2026 bagi siswa jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA sebagai penerima manfaat. Target sasaran yang luas ini mencakup seluruh jenjang pendidikan dasar hingga menengah di bawah naungan Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama di wilayah Lebak.
Namun, perlakuan berbeda diberikan kepada kelompok sasaran non-siswa. Program MBG juga untuk khusus ibu menyusui, ibu hamil, dan balita dengan menu berupa makanan basah. Hal ini dikarenakan kelompok tersebut umumnya tidak menjalankan ibadah puasa atau memiliki kebutuhan nutrisi segera yang tidak bisa ditunda. Pihaknya berharap, program MBG berjalan lancar selama Ramadhan dengan tetap memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara komprehensif.
Instruksi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kinerja para pengelola di lapangan. Asep memberikan instruksi tegas kepada garda terdepan pelaksana program agar tetap menjaga standar tinggi dalam pemilihan bahan makanan. "Kami minta pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar membagikan makanan kering yang memiliki kualitas gizi selama Ramadhan," kata dia.
Setiap paket makanan kering yang dibagikan harus tetap memenuhi kriteria gizi seimbang, bukan sekadar makanan ringan biasa. Pengawasan ketat akan dilakukan untuk memastikan kualitas protein dan mikronutrien dalam roti atau abon yang dibagikan tetap terjaga sesuai dengan standar kesehatan nasional.
Dampak Masif MBG terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Selain aspek kesehatan, Program MBG di Lebak telah menjelma menjadi motor penggerak ekonomi yang luar biasa. Berdasarkan laporan hingga Minggu, pelaksanaan program MBG di daerah setempat oleh 102 SPPG dengan penerima manfaat mencapai 255.000 orang. Angka penerima manfaat yang besar ini berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja di tingkat lokal.
Program itu menyerap total jumlah tenaga kerja 5.305 orang di 102 SPPG dengan rata-rata 52 orang per SPPG. Hal ini membuktikan bahwa MBG bukan sekadar program konsumsi, melainkan program pemberdayaan masyarakat. Ia mengatakan program MBG memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan penyerapan lapangan pekerjaan baru di wilayah-wilayah perdesaan maupun perkotaan di Lebak.
Keamanan Pangan dan Keberhasilan Implementasi
Hingga saat ini, catatan pelaksanaan program di Lebak menunjukkan tren yang sangat positif, terutama dari sisi keamanan konsumsi. "Kami mengapresiasi program MBG di Lebak berjalan baik dan tidak ditemukan penerima manfaat keracunan makanan," kata Asep. Keamanan pangan ini menjadi indikator utama keberhasilan koordinasi antara BGN, SPPG, dan tenaga kesehatan di lapangan.
Dengan tetap berjalannya program selama bulan puasa, Pemerintah Kabupaten Lebak optimistis bahwa target penurunan angka stunting dan peningkatan kualitas kesehatan siswa dapat tercapai secara konsisten tanpa terputus oleh dinamika musim atau hari besar keagamaan.