Menhan Apresiasi Kerja TNI Tangani Dampak Bencana Aceh Tamiang

Jumat, 13 Februari 2026 | 13:39:23 WIB
Menhan Apresiasi Kerja TNI Tangani Dampak Bencana Aceh Tamiang

JAKARTA - Pemulihan wilayah terdampak bencana di Aceh Tamiang terus dikebut. 

Pemerintah menaruh perhatian pada langkah konkret di lapangan, terutama dalam mengatasi sedimentasi yang memperparah aliran sungai. Dalam konteks inilah Menteri Pertahanan turun langsung untuk melihat proses kerja Satuan Tugas Kuala yang digerakkan oleh TNI di Muara Kuala.

Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung proses kerja pengerukan sedimentasi di Muara Kuala yang dilakukan personel TNI dalam Satgas Kuala di lokasi bencana Aceh Tamiang.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa upaya pengerukan benar-benar berjalan efektif dan memberi dampak nyata terhadap kebersihan aliran air yang sebelumnya dipenuhi lumpur.

Pastikan Pengerukan Berjalan Efektif

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat, dijelaskan bahwa peninjauan ini dilakukan guna memastikan pengerukan berjalan efektif dan berdampak pada kebersihan aliran air yang sebelumnya dipenuhi lumpur. 

Kehadiran Menteri Pertahanan di lokasi menjadi bentuk dukungan moril sekaligus pengawasan langsung terhadap proses pemulihan pascabencana.

"Langkah pengerukan ini adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam merespons bencana secara holistik," kata Sjafrie dalam siaran pers tersebut.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengerukan sedimentasi bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab negara dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. 

Pendangkalan muara yang terjadi akibat sedimentasi dinilai menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak banjir di kawasan tersebut.

Upaya Mitigasi dan Pencegahan Banjir

Menurut Sjafrie, pengerukan sedimentasi di muara bukan hanya bertujuan untuk pemulihan pascabencana, tetapi juga sebagai upaya mitigasi guna mencegah banjir serupa terulang di masa mendatang. 

Dengan kata lain, langkah ini diarahkan agar wilayah tersebut memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap potensi bencana berikutnya.

Dengan berkurangnya sedimentasi, kapasitas tampung air di bagian hilir meningkat sehingga aliran air dari hulu menuju laut menjadi lebih lancar. Hal ini penting karena aliran yang tersendat di muara dapat menyebabkan air tertahan dan meluap ke kawasan permukiman warga.

Kondisi ini, lanjut Sjafrie, dapat mengurangi risiko luapan air akibat pendangkalan muara yang menyebabkan air tertahan di kawasan permukiman. Upaya teknis berupa pengerukan menjadi solusi langsung untuk memperbaiki struktur aliran sungai agar kembali optimal.

Langkah tersebut juga mencerminkan pendekatan menyeluruh dalam penanganan bencana. Tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, pemerintah berupaya membangun sistem yang lebih tahan terhadap ancaman serupa di masa depan.

Dampak terhadap Perekonomian Nelayan

Selain dari segi antisipasi bencana banjir, Sjafrie menilai pengerukan aliran air ini juga dapat berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat, khususnya bagi para nelayan. Muara yang dangkal kerap menyulitkan kapal keluar masuk, terutama saat air surut.

Dengan kedalaman aliran sungai yang terjaga, diharapkan kapal dapat keluar masuk dengan mudah tanpa harus menunggu pasang tinggi. Kondisi tersebut dapat menguntungkan nelayan dari segi efisiensi waktu dan biaya operasional, sehingga produktivitas pun meningkat.

"Kita tidak hanya memperbaiki apa yang rusak, tetapi juga memastikan masa depan masyarakat menjadi lebih baik, baik dari sisi keamanan lingkungan maupun kedaulatan ekonomi," jelas Sjafrie.

Pernyataan itu menegaskan bahwa pengerukan sedimentasi memiliki dimensi ganda: perlindungan lingkungan dan penguatan ekonomi lokal. Ketika akses perairan membaik, aktivitas perikanan diharapkan kembali bergeliat dan memberi dampak positif bagi kesejahteraan warga.

Harapan Pemulihan Berkelanjutan

Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang terdampak bencana dan membutuhkan perhatian lintas sektor. Keterlibatan TNI melalui Satgas Kuala menunjukkan sinergi antara unsur pertahanan dan kepentingan kemanusiaan.

Sjafrie berharap proses pengerukan bisa berjalan dengan lancar demi terciptanya pemulihan wilayah pasca bencana di Aceh Tamiang. Kelancaran pekerjaan di lapangan dinilai penting agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat.

Dengan pengerukan yang terus dilakukan, diharapkan sedimentasi tidak lagi menjadi hambatan utama aliran air. Selain itu, pemulihan infrastruktur alami sungai diharapkan menjadi fondasi bagi stabilitas lingkungan dalam jangka panjang.

Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa respons bencana tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Pemerintah berupaya memastikan bahwa wilayah terdampak dapat bangkit dengan kondisi yang lebih baik, aman, dan produktif.

Terkini